Diskursus Perubahan Sistem Pendidikan Indonesia

Avatar

Saat ini, secara umum, ada beberapa kritik pada pelaksanaan sistem pendidikan di Indonesia yang telah berjalan. Kritik ini, pada umumnya yang menyangkut persoalan pokok dalam buruknya sistem pendidikan di Indonesia, antara lain yang utama adalah pelaksanaan kurikulum yang tidak tepat. Selanjutnya, akan mempengaruhi kinerja guru yang kemudian dimaknai oleh masyarakat luas adanya kecenderungan penurunan kualitas guru di Indonesia.

Menurut beberapa kritikus, kurikulum pendidikan di Indonesia kurang begitu tepat. Karena, sampai saat ini pemerintah Indonesia tidak terlalu yakin tentang apa yang dibutuhkan oleh murid-murid di setiap daerah di Indonesia. Pada dasarnya, sesuai dengan harkat martabat manusia, bahwa setiap orang memiliki potensi atau kemampuan yang berbeda-beda, dan kurikulum yang diterapkan disetiap sekolah-sekolah di suatu daerah belum tentu sesuai dengan kebutuhan para peserta didik di daerah di Indonesia.

Banyak kekhawatiran yang muncul tentang kurikulum yang dipakai. Jika kurikulum yang lama masih dipakai dengan konsep sebagaimana sekarang, murid  akan jadi orang yang sama. Murid  dicetak sama untuk jadi produk yang mudah diolah. Mindset murid selamanya akan menjadi pegawai, dan murid  tidak akan punya keberanian memulai sendiri, karena murid tidak pernah di didik untuk punya kepercayaan diri.

Secara tegas, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah menyentil tentang sistem pendidikan di Indonesia sebagai sistem yang hanya untuk menghasilkan para budak pekerja rendahan yang melayani kepentingan pemilik modal.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI di Kabinet Indonesia Maju, Nadiem Makarim menghembuskan semangat pembaharuan pendidikan melalui konsep Merdeka belajar. Yang rencananya dimulai pada tahun 2021. Dan pada saat ini, tengah melakukan penelitian dan persiapan persiapan langkah kemajuan pendidikan di Indonesia.

Konsep Merdeka belajar, secara konseptual adalah konsep pendidikan untuk kebebasan. Dalam arti yang dapat diambil kesimpulan, bahwa pendidikan adalah wahana terpenting untuk mencapai kemerdekaan. Baik itu kemerdekaan secara fisik, kemerdekaan dari kemiskinan, merdeka dari kebodohan, maupun merdeka berinovasi dan lain lain.

Konsep Merdeka belajar yang di gulirkan menteri Nadiem Makarim, setidaknya mempunyai pijakan referensi dan empiris. Sebut saja misalnya, Paulo Freire dengan Konsep Pendidikan yang Merdeka, John Dewey dengan Pendidikan Progressif, Ki Hajar Dewantara dengan Tut Wuri Handayani dan konsep Panca Wardhana -nya Soekarno. Pijakan referensi ini setidaknya telah diuji dan dinyatakan berhasil di negara masing masing.

Secara garis besar, ada kesalahan terbesar dalam konsep pengajaran antara guru dan murid. Yaitu, gaya bercerita monolog dan pendidikan gaya bank yang selanjutnya akan dikritisi oleh beberapa ahli dalam pembahasan dibawah ini.

Paulo Freire pernah mengkritik sistem Pendidikan yang selama ini dipakai dalam proses belajar mengajar di Sekolah. Termasuk di Indonesia, yaitu metode pendidikan dengan media bercerita. Dalam metode bercerita, dimana guru sebagai pencerita mengarahkan murid – murid untuk menghafal secara mekanis apa isi pelajaran yang diceritakan. Lebih buruk lagi muridnya diubah menjadi bejana bejana, wadah wadah kosong untuk diisi oleh guru. Semakin penuh dia mengisi wadah wadah itu semakin baik pula prestasi si guru.

Ada juga metode yang lain, yaitu metode gaya Bank yang dimana pendidikan karenanya menjadi sebuah kegiatan menabung. Dimana para murid adalah celengan dan guru adalah penabungnya.

Dalam konsep pendidikan gaya Bank, ilmu  pengetahuan merupakan suatu yang bersifat anugerah yang diberikan secara cuma – cuma dari  guru yang yang menganggap memiliki segala ilmu pengetahuan kepada murid mereka yang dianggap tidak memiliki pengetahuan apa apa. Menganggap bodoh dan tidak tahu apa-apa secara mutlak pada orang lain adalah sebuah ciri dari ‘Idiologi Penindasan’.

Sikap menganggap murid hanya menerima dan posisi pasif, berarti mengingkari bahwa proses pendidikan dan pengetahuan adalah sebagai proses pencarian. Guru menampilkan diri di hadapan murid muridnya, sebagai orang yang berada pada pihak yang berlawanan. Dengan menganggap mereka mutlak bodoh, maka dia mengukuhkan keberadaan dirinya sendiri para murid yang bagaikan budak terasing.

Sebagaimana dalam dialektika Hegel. menerima kebodohan mereka sebagai pengesahan keberadaan Sang guru. Tetapi, tidak seperti ‘Budak’, yang dalam arti mereka tidak pernah menyadari bahwa mereka lah sebenarnya yang mendidik gurunya.

Menurut Freire juga, yang mungkin saja mengilhami merdeka belajarnya Nadiem Makarim, pendidikan yang membebaskan seharusnya adalah upaya untuk melakukan usaha rekonsiliasi antara murid, guru, lingkungan dan budaya. Dimana proses pendidikan itu dilangsungkan. Pendidikan ini harus dimulai dengan mencari dan mengidentifikasi pemecahan masalah kontradiksi antara guru dan murid tersebut, dengan mendamaikan pokok-pokok permasalaham yang hadapai  dalam kontradiksi itu sehingga kedua duanya secara bersamaandalam proses belajar mengajar  adalah guru dan murid yang saling melengkapi dalam keadaan setara sehingga mampu menimbulkan kepercayaan diri siswa.

Sedangkan menurut John Dewey, pendidikan itu tidak lain adalah rangkaian proses hidup itu sendiri. Dan hidup ini bukan hanya persoalan kehidupan pribadi saja, tapi juga secara menyeluruh  menyangkut kehidupan masyarakat disekitarnya juga.

Menurut Dewey, kelangsungan  pendidikan adalah sebuah keniscayaan dan berlangsung secara alami, berfungsi aspek sosial karena berlangsung dalam masyarakat itu sendiri, memiliki nilai dan makna membimbing lantaran kebiasaan hidup generasi lama yang berbeda dengan generasi baru serta menjadi tanda perkembangan peradaban suatu masyarakat. Pendidikan itu tidak lain adalah usaha menjaga keberlangsungan masyarakat itu sendiri agar tetap berada dalam kehidupan.

Dewey percaya, bahwa inti  dari kurikulum seharusnya mencakup pengalaman dan apa yang dialami oleh anak. Kurikulum bukanlah tujuan yang dicapai di dalam kurikulum itu sendiri. Jika kurikulum menjadi tujuan pendidikan, ketika kurikulum itu telah tecapai dan dengan sangat bagus disampaikan oleh guru, maka itu berarti menyebabkan anak murid terpaksa berhenti berpikir, berhenti merenungkan pengalamannya, dan pada akhirnya kematian masyarakat itu sendiri.

Pendidikan harus membawa konsep mengenai perubahan dan perkembangan masyarakat dan mampu menimbulkan pertanyaan pertanyaan berikutnya serta ada proses yang saling berlanjut baik dalam proses berfikir, kreativitas dan pemahaman akan diri sendiri sang murid yang menempuh pendidikan tersebut.

Berdasarkan uraian diatas, dalam rangka perubahan-perubahan sistem pendidikan di Indonesia oleh Menteri Nadeim Makarim, metode yang lebih tepat digunakan di negeri ini adalah sistem pendidikan melalui pendekatan kultural. Pendekatan kultural tidak akan kurang dampaknya pada pencapaian tujuan untuk membebaskan manusia dari belenggu kemiskinan, yang ketika digunakan secara tepat, yaitu dalam menciptakan manusia yang sadar akan dirinya secara Kultural.

Konteks kultural itu akan menumbuhkan murid murid  yang menolak perbedaan tidak asasi antara manusia, menolak ketundukan kepada apa yang tidak benar dan menolak keputus’asaan. Dengan kata lain, pendekatan kultural akan memunculkan kekuatan moral yang juga dimiliki oleh jumlah cukup manusia dalam sebuah masyarakat akan mengubah corak hidup masyarakat itu sendiri secara total.

 

Tentang Penulis

Assoc. Prof. Ade Parlaungan Nasution, P.HD merupakan seorang akademisi, ekonom, politikus dan aktivis yang aktif menulis. baanvak karyanya yang telah dibukukan maupun diterbitkan sebagi jurnal.

Penulis: Ade Parlaungan NasutionEditor: Doni Pinayungan, Tim Editor